Terima kasih Gir Pasang
Sabtu,
01 Desember 2012
Yaah
,,, hari ini hari sabtu awal bulan desember, hari ini adalah hari ke 4 kalinya
dimana aku mengunjungi desa Gir pasang kemalang klaten, berawal dari
ketertarikanku karena mendengar cerita dari teman-temanku laskar jurnalis
merapi (Lajur) mengenai desa tersebut. Aku sangat penasaran sekali apakah yang
diceritakan teman-temanku itu benar atau tidak.
Hari
1 menuju Gir pasang
Awal
kedatanganku aku datang bersama teman-teman lajur merapi yaitu Mas Rudi, Mas Arya,
mbak Rini ,dan satu Lagi mas Pram yang merekomendasikan kami untuk mendatangi
desa tersebut. Untuk menuju desa Gir pasang kurang lebih hanya dibutuhkan waktu
1 jam, namun hal itu bukanlah hal yang mudah untuk kami lewati. Jalan yang
berlubang, truk bermuatan yang memadati jalan sehingga kami harus bersabar
untuk mengantre, belum lagi kami harus menyeberangi kali woro yaitu kali bekas
terjangan lahar dingin. Kami harus ekstra hati-hati untuk melewati kali
tersebut karena gundukan pasir dan bebatuan yang bisa membahayakan keselamatan kami.
Setelah melewati kali woro kami langsung meneruskan perjalanan melewati Taman
Nasional Ndeles Indah. Sesampai disana kami berhenti disebuah rumah, aku pikir
kami sudah sampai di desa Gir pasang, ternyata disana kami harus menitipkan
motor terlebih dulu karena untuk menuju desa Gir pasang tidak ada akses untuk
kendaraan .Dan ternyata benar apa yang mas Pram ceritakan, hal ini benar-benar
di luar dugaanku sebelumnya. Pemandangan yang begitu mengagumkan, suasana yang
begitu tenang dan membawa kedamaian, sulit untuk aku ungkapkan dengan kata-kata
intinya sejauh mata memandang hanya keindahan yang terpancarkan. Desa tersebut terletak
di Dusun Gir Pasang, Kemalang, Klaten kurang lebih 4 km dari puncak merapi.
Desa Gir Pasang diapit oleh dua jurang, pantas saja desa tersebut diberi nama
Gir pasang, berawal dari nama Gligir Pasang, Gligir yang berarti pinggiran/
pinggir jurang dan Pasang yang berati sepasang jadi Gir Pasang adalah desa yag
terletak ditengah-tengah jurang yang sepasang. Yaah.. kondisi Geografis yang
seperti ini menjadikan Dusun Gir Pasang Terpencil dan terisolasi. Untuk menuju
desa tersebut kami harus naik turun jurang, jalan setapak yang berliku dan
berbentuk zig-zag menambah keindahan desa tersebut, kami juga berpapasan dengan
beberapa ibu-ibu yang menyunggi rumput, sungguh wanita yang hebat..!!! untuk
berjalan menuju Gir pasang mungkin dibutuhkan waktu 15-20 menit bagi mereka,
tapi tentu tidak bagi kami, kami menghabiskan waktu lebih dari 1 jam, mungkin
hal itu dikarenakan kami yang terlalu narsis berfoto dan terlalu lama kami
beristirahat. Sesampai di Gir pasang keringat yang bercucuran membasahi baju
kami, ingin aku rasanya berfoto sambil mengibarkan bendera merah putih disana
dan langsung menelpon keluargaku untuk mengabarkan bahwa aku dan teman-teman telah
berhasil mencapai puncak tertinggi di Gir Pasang (niat itu aku urungkan kembali
karena hal itu mungkin terdengar sedikit agak berlebihan J). Disana kami langsung disambut dengan
keramahan penduduk setempat. Kami langsung menuju salah satu rumah yaitu rumah
milik sesepuh desa sebut saja Mbah Padmo, namun sayang saat itu kami tidak
bertemu dengan beliau, kami hanya bertemu dengan anak perempuan mbah Padmo
yaitu mbak parmi dan panji, cucu dari mbah padmo yang berumur 3 tahun yang
sangat sangat sangat menggemaskan J.
Niat awal kedatangan kami adalah hanya sekedar untuk bersilaturahmi dan
menanyakan beberapa hal yang terkait dengan desa Gir pasang kepada Mbak Parmi,
beruntung kami saat itu bersama mas Pram karena hanya dia yang lancar berbahasa
jawa “kromo alus”. Disana hanya terdapat 32 penduduk terdiri dari 10 KK dan 7
Rumah. Disana juga terdapat beberapa hal yang unik, disana tidak ada makanan
instan seperti mie instan, chiki seperti yang kami bawa saat itu, sebenarnya
kami ingin berbagi dengan anak-anak kecil disana, namun hal itu dilarang karena
apabila kita memberikan makanan instan, hal itu akan menjadi kebiasaan bagi
mereka, dan ketika anak-anak ingin menginginkan lagi, tentunya hal itu akan
menyusahkan kedua orang tua mereka, karena warung terdekat terletak didesa
sebelah.
Karena
waktu sudah sore, kami segera undur diri dan berpamitan kepada mbak Parmi untuk
meneruskan perjalanan pulang. Beruntung baterai kamera masih tersisa, sehingga
kami tak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk mengabadikan pengalaman
kami dengan berfoto-foto di Gir Pasang. Hari itu adalah kesempatan dan
pengalaman yang pertama kali bagiku untuk mengunjungi desa Gir Pasang ,yang
tentunya memberikan sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. J
Hari
k-2 dan k-3 menuju Gir Pasang
Semenjak
kedatanganku pertama kali di Gir Pasang aku sedikit berbagi cerita dengan
keluargaku, tak terkecuali teman-teman kampusku. Hingga pada akhirnya ketika
dikampus Ibu Mami Hajaroh seorang dosen yang mengampu mata kuliah Dasar-dasar
penelitian memberikan tugas kepada kami mengenai RRA ( Rapid Rural Appraisal).
RRA sendiri berarti kegiatan mempelajari keadaan pedesaan secara berulang,
intensif, eksporatif dan cepat yang dilakukan oleh kelompok kecil
antar-disiplin, yang menggunakan sejumlah metode, alat, tekhnik yang dipilh
secara khusus,, yah intinya seperti itulah memang agak ribet juga, J. Waktu itu aku sekelompok dengan Rini,
Dewi, Pipit, dan Ismi. Ada beberapa
kandidat yang akan menjadi tujuan RRA kami antara lain rekomendasi dari mbk Dewi didaerah ketep Deket Merbabu, usulan
dari Rini shelter daerah cangkringan, dan yang terakhir adalah Gir Pasang,
akhirnya melalui beberapa pertimbangan akhirnya aku memenangkannya,, yah Gir
Pasang menjadi tujuan RRA kami. Sebenarnya aku tahu betul apa tujuan mereka
memilih Gir Pasang, selain mereka ingin mengetahui seperti apa itu Gir Pasang
mereka juga ingin merasakan keindahan disana. Iyeeees,, melalui foto-foto yang
ku pernah kuperlihatkan dan sekilas cerita tentang Gir Pasang akhirnya aku
berhasil mempengaruhi mereka,,, hha J.
Hari
H penelitian Di Gir Pasang
Untuk
melakukan penelitian di Gir pasang kami membutuhkan waktu 2 hari, hari pertama
aku meminta bantuan kepada mas Arya dan Mbak Rini untuk mengantarkan Kami
menuju Gir Pasang. Kami melewati jalur selatan meskipun lebih jauh namun apa boleh buat karena
mengingat sebagian besar dari kami adalah perempuan dan aku tidak akan
mengulangi kejadian terpeleset untuk yang kedua kalinya ketika di kali woro.
Sesampai disana apa yang teman-teman ku katakan ternyata gag jauh beda dengan
apa yang aku katakan ketika pertama kalinya aku ke Gir Pasang. Saat itu hanya 1
dari temanku yang membawa kamera dan “Surprissse sekali “ baterai kamera
melemah ,,, hha selamat teman-teman J ... meskipun dengan baterai yang
seadanya kami tetap foto-foto beruntung ada mas Arya juru cameramen Lajur yang
berbaik hati yang bersedia memfotokan kami. Sesampai di Gir Pasang kami
langsung menuju rumah mbah Padmo namun
sayang kami tak bertemu dengan beliau kami hanya bertemu dengan mbak Parti dan
tentu saja dengan panji, ponakan mbak Parti. Panji terlihat senang ketika kami
datang mungkin karena banyak teman dia termasuk anak yang berani tanpa rasa
malu dia langsung mendekati kami dan mengajak kami bermain.Bersama mbak Parti
dan Pak RT ada banyak hal yang kami tanyakan mengenai Gir pasang antara lain
tentang pendidikan, agama, sosial ekonomi, budaya dan lain-lain. Selain ramah
warga desa Gir Pasang juga terlihat sangat terbuka. Sungguh menakjubkan
ditengah hingar-bingar arus globalisasi dan modernitas saat ini, warga Gir
pasang justru lebih memeilih untuk bertahan dengan kemurnian, keserdehanaan dan
keasliaan.
Banyak
Hal yang kami dapatkan dengan tugas penelitian RRA kali, kami lebih bisa
bersyukur atas apa yang telah Dia berikan kepada kami, setidaknya kami lebih
beruntung dari mereka...yaah pengalaman kami kali ini merupakan pengalaman yang
tak akan terlupakan, banyak pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang kami
dapatkan melalui penelitian ini
Hari
ke 4 Ke Gir pasang
Akhirnya....Tiba
juga waktu yang aku nanti-nanti.. yups hari ini hari ke 4 aku ke Gir Pasang,,,
yah aku bersama teman2 karang taruna, Lajur dan mz Vey dan mz Yusuf dari lembaga
RYM ,,, dan aku mendadak amnesia apa itu singkatan RYM....hahaa
Tujuan
kami datang ke Gir pasang adalah ingin membantu mz Vey untuk membangun sebuah
perpustakaan disana,, kali ini kami membawa beberapa buku bacaan dan alat
tulis... sayang sesampai disana tak ada satupun anak kecil yang kami temui
padahal kami ingin belajar dan bermain bersama mereka,,,, huhuuu meski sedikit
mengecewakan tapi tak apalah kami masi bisa bertemu mbah padmo untuk menyerahkan
sedikit bantuan yang tak sebanding dengan apa yang pernah kami dapatkan dari
mereka J....
Yaah,,,
tak terasa waktu berjalan begitu cepat,, jarum jam sudah menunjukkan pukul
setengah 5.. waktunya undur diri, kamipun segera berpamitan kepada mbah padmo,,
mbah padmo sendiri berharap kami bisa menginap disana,, tawaran yang sangat menyenangkan,,
J namun apa boleh buat kami tidak membawa
perlengkapan apapun, kami juga belum minta izin pada orang tua kami,, kami
berjanji suatu saat nanti kami akan menyempatkan waktu untuk menginap disana,,,
sepertinya mbah padmo setuju akan hal itu,,, J
Kesimpulannya
perjalanan kali ini akan sangat sangat mengesankan.... terima kasih Gir Pasang
engkau memberikan pelajaran bagi kami tentang apa itu hidup, pengorbanan dan
perjuangan... J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar