Jumat, 04 Januari 2013

Belajar Dari Gir Pasang

Terima kasih Gir Pasang
Sabtu, 01 Desember 2012
Yaah ,,, hari ini hari sabtu awal bulan desember, hari ini adalah hari ke 4 kalinya dimana aku mengunjungi desa Gir pasang kemalang klaten, berawal dari ketertarikanku karena mendengar cerita dari teman-temanku laskar jurnalis merapi (Lajur) mengenai desa tersebut. Aku sangat penasaran sekali apakah yang diceritakan teman-temanku itu benar atau tidak.
Hari 1 menuju Gir pasang
Awal kedatanganku aku datang bersama teman-teman lajur merapi yaitu Mas Rudi, Mas Arya, mbak Rini ,dan satu Lagi mas Pram yang merekomendasikan kami untuk mendatangi desa tersebut. Untuk menuju desa Gir pasang kurang lebih hanya dibutuhkan waktu 1 jam, namun hal itu bukanlah hal yang mudah untuk kami lewati. Jalan yang berlubang, truk bermuatan yang memadati jalan sehingga kami harus bersabar untuk mengantre, belum lagi kami harus menyeberangi kali woro yaitu kali bekas terjangan lahar dingin. Kami harus ekstra hati-hati untuk melewati kali tersebut karena gundukan pasir dan bebatuan yang bisa membahayakan keselamatan kami. Setelah melewati kali woro kami langsung meneruskan perjalanan melewati Taman Nasional Ndeles Indah. Sesampai disana kami berhenti disebuah rumah, aku pikir kami sudah sampai di desa Gir pasang, ternyata disana kami harus menitipkan motor terlebih dulu karena untuk menuju desa Gir pasang tidak ada akses untuk kendaraan .Dan ternyata benar apa yang mas Pram ceritakan, hal ini benar-benar di luar dugaanku sebelumnya. Pemandangan yang begitu mengagumkan, suasana yang begitu tenang dan membawa kedamaian, sulit untuk aku ungkapkan dengan kata-kata intinya sejauh mata memandang hanya keindahan yang terpancarkan. Desa tersebut terletak di Dusun Gir Pasang, Kemalang, Klaten kurang lebih 4 km dari puncak merapi. Desa Gir Pasang diapit oleh dua jurang, pantas saja desa tersebut diberi nama Gir pasang, berawal dari nama Gligir Pasang, Gligir yang berarti pinggiran/ pinggir jurang dan Pasang yang berati sepasang jadi Gir Pasang adalah desa yag terletak ditengah-tengah jurang yang sepasang. Yaah.. kondisi Geografis yang seperti ini menjadikan Dusun Gir Pasang Terpencil dan terisolasi. Untuk menuju desa tersebut kami harus naik turun jurang, jalan setapak yang berliku dan berbentuk zig-zag menambah keindahan desa tersebut, kami juga berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang menyunggi rumput, sungguh wanita yang hebat..!!! untuk berjalan menuju Gir pasang mungkin dibutuhkan waktu 15-20 menit bagi mereka, tapi tentu tidak bagi kami, kami menghabiskan waktu lebih dari 1 jam, mungkin hal itu dikarenakan kami yang terlalu narsis berfoto dan terlalu lama kami beristirahat. Sesampai di Gir pasang keringat yang bercucuran membasahi baju kami, ingin aku rasanya berfoto sambil mengibarkan bendera merah putih disana dan langsung menelpon keluargaku untuk mengabarkan bahwa aku dan teman-teman telah berhasil mencapai puncak tertinggi di Gir Pasang (niat itu aku urungkan kembali karena hal itu mungkin terdengar sedikit agak berlebihan J). Disana kami langsung disambut dengan keramahan penduduk setempat. Kami langsung menuju salah satu rumah yaitu rumah milik sesepuh desa sebut saja Mbah Padmo, namun sayang saat itu kami tidak bertemu dengan beliau, kami hanya bertemu dengan anak perempuan mbah Padmo yaitu mbak parmi dan panji, cucu dari mbah padmo yang berumur 3 tahun yang sangat sangat sangat menggemaskan J. Niat awal kedatangan kami adalah hanya sekedar untuk bersilaturahmi dan menanyakan beberapa hal yang terkait dengan desa Gir pasang kepada Mbak Parmi, beruntung kami saat itu bersama mas Pram karena hanya dia yang lancar berbahasa jawa “kromo alus”. Disana hanya terdapat 32 penduduk terdiri dari 10 KK dan 7 Rumah. Disana juga terdapat beberapa hal yang unik, disana tidak ada makanan instan seperti mie instan, chiki seperti yang kami bawa saat itu, sebenarnya kami ingin berbagi dengan anak-anak kecil disana, namun hal itu dilarang karena apabila kita memberikan makanan instan, hal itu akan menjadi kebiasaan bagi mereka, dan ketika anak-anak ingin menginginkan lagi, tentunya hal itu akan menyusahkan kedua orang tua mereka, karena warung terdekat terletak didesa sebelah.
Karena waktu sudah sore, kami segera undur diri dan berpamitan kepada mbak Parmi untuk meneruskan perjalanan pulang. Beruntung baterai kamera masih tersisa, sehingga kami tak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk mengabadikan pengalaman kami dengan berfoto-foto di Gir Pasang. Hari itu adalah kesempatan dan pengalaman yang pertama kali bagiku untuk mengunjungi desa Gir Pasang ,yang tentunya memberikan sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. J
Hari k-2 dan k-3 menuju Gir Pasang
Semenjak kedatanganku pertama kali di Gir Pasang aku sedikit berbagi cerita dengan keluargaku, tak terkecuali teman-teman kampusku. Hingga pada akhirnya ketika dikampus Ibu Mami Hajaroh seorang dosen yang mengampu mata kuliah Dasar-dasar penelitian memberikan tugas kepada kami mengenai RRA ( Rapid Rural Appraisal). RRA sendiri berarti kegiatan mempelajari keadaan pedesaan secara berulang, intensif, eksporatif dan cepat yang dilakukan oleh kelompok kecil antar-disiplin, yang menggunakan sejumlah metode, alat, tekhnik yang dipilh secara khusus,, yah intinya seperti itulah memang agak ribet juga, J. Waktu itu aku sekelompok dengan Rini, Dewi, Pipit, dan Ismi.  Ada beberapa kandidat yang akan menjadi tujuan RRA kami antara lain rekomendasi  dari mbk Dewi didaerah ketep Deket Merbabu, usulan dari Rini shelter daerah cangkringan, dan yang terakhir adalah Gir Pasang, akhirnya melalui beberapa pertimbangan akhirnya aku memenangkannya,, yah Gir Pasang menjadi tujuan RRA kami. Sebenarnya aku tahu betul apa tujuan mereka memilih Gir Pasang, selain mereka ingin mengetahui seperti apa itu Gir Pasang mereka juga ingin merasakan keindahan disana. Iyeeees,, melalui foto-foto yang ku pernah kuperlihatkan dan sekilas cerita tentang Gir Pasang akhirnya aku berhasil mempengaruhi mereka,,, hha J.
Hari H penelitian Di Gir Pasang
Untuk melakukan penelitian di Gir pasang kami membutuhkan waktu 2 hari, hari pertama aku meminta bantuan kepada mas Arya dan Mbak Rini untuk mengantarkan Kami menuju Gir Pasang. Kami melewati jalur selatan meskipun  lebih jauh namun apa boleh buat karena mengingat sebagian besar dari kami adalah perempuan dan aku tidak akan mengulangi kejadian terpeleset untuk yang kedua kalinya ketika di kali woro. Sesampai disana apa yang teman-teman ku katakan ternyata gag jauh beda dengan apa yang aku katakan ketika pertama kalinya aku ke Gir Pasang. Saat itu hanya 1 dari temanku yang membawa kamera dan “Surprissse sekali “ baterai kamera melemah ,,, hha selamat teman-teman  J ... meskipun dengan baterai yang seadanya kami tetap foto-foto beruntung ada mas Arya juru cameramen Lajur yang berbaik hati yang bersedia memfotokan kami. Sesampai di Gir Pasang kami langsung  menuju rumah mbah Padmo namun sayang kami tak bertemu dengan beliau kami hanya bertemu dengan mbak Parti dan tentu saja dengan panji, ponakan mbak Parti. Panji terlihat senang ketika kami datang mungkin karena banyak teman dia termasuk anak yang berani tanpa rasa malu dia langsung mendekati kami dan mengajak kami bermain.Bersama mbak Parti dan Pak RT ada banyak hal yang kami tanyakan mengenai Gir pasang antara lain tentang pendidikan, agama, sosial ekonomi, budaya dan lain-lain. Selain ramah warga desa Gir Pasang juga terlihat sangat terbuka. Sungguh menakjubkan ditengah hingar-bingar arus globalisasi dan modernitas saat ini, warga Gir pasang justru lebih memeilih untuk bertahan dengan kemurnian, keserdehanaan dan keasliaan.
Banyak Hal yang kami dapatkan dengan tugas penelitian RRA kali, kami lebih bisa bersyukur atas apa yang telah Dia berikan kepada kami, setidaknya kami lebih beruntung dari mereka...yaah pengalaman kami kali ini merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan, banyak pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang kami dapatkan melalui penelitian ini

Hari ke 4 Ke Gir pasang
Akhirnya....Tiba juga waktu yang aku nanti-nanti.. yups hari ini hari ke 4 aku ke Gir Pasang,,, yah aku bersama teman2 karang taruna, Lajur dan mz Vey dan mz Yusuf dari lembaga RYM ,,, dan aku mendadak amnesia apa itu singkatan RYM....hahaa
Tujuan kami datang ke Gir pasang adalah ingin membantu mz Vey untuk membangun sebuah perpustakaan disana,, kali ini kami membawa beberapa buku bacaan dan alat tulis... sayang sesampai disana tak ada satupun anak kecil yang kami temui padahal kami ingin belajar dan bermain bersama mereka,,,, huhuuu meski sedikit mengecewakan tapi tak apalah kami masi bisa bertemu mbah padmo untuk menyerahkan sedikit bantuan yang tak sebanding dengan apa yang pernah kami dapatkan dari mereka J....
Yaah,,, tak terasa waktu berjalan begitu cepat,, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 5.. waktunya undur diri, kamipun segera berpamitan kepada mbah padmo,, mbah padmo sendiri berharap kami bisa menginap disana,, tawaran yang sangat menyenangkan,, J  namun apa boleh buat kami tidak membawa perlengkapan apapun, kami juga belum minta izin pada orang tua kami,, kami berjanji suatu saat nanti kami akan menyempatkan waktu untuk menginap disana,,, sepertinya mbah padmo setuju akan hal itu,,, J
Kesimpulannya perjalanan kali ini akan sangat sangat mengesankan.... terima kasih Gir Pasang engkau memberikan pelajaran bagi kami tentang apa itu hidup, pengorbanan dan perjuangan... J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar